Lonjakan biaya cloud, risiko vendor lock-in, dan keterbatasan fleksibilitas mulai menjadi masalah serta menghantui banyak korporasi dan organisasi besar. Dalam beberapa tahun terakhir, kalangan korporasi di Eropa mulai dari sektor finansial hingga manufaktur mulai menyadari satu hal penting: bergantung pada satu penyedia cloud tidak lagi efisien maupun aman.
Strategi multi-cloud pun muncul sebagai solusi nyata. Dengan memanfaatkan kombinasi penyedia layanan seperti AWS, Google Cloud, dan OpenStack berbasis open source, perusahaan dapat mengoptimalkan biaya, meningkatkan resilience, sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu vendor.
Menurut laporan Gartner 2025, lebih dari 78% perusahaan besar di Eropa kini mengadopsi strategi multi-cloud untuk efisiensi biaya dan penguatan keamanan data. Langkah ini terbukti mampu menurunkan total cost of ownership (TCO) hingga 25–30%, sambil menjaga kinerja operasional di level enterprise.
Relevansi bagi Indonesia: Efisiensi, Regulasi, dan Kedaulatan Data
Di Indonesia, tren multi-cloud juga mulai menguat. Tekanan biaya operasional IT, kebutuhan efisiensi, serta tuntutan kedaulatan data nasional kini mendorong kalangan korporasi, lembaga pemerintah dan layanan publik untuk meninjau ulang strategi cloud mereka.
Kebijakan seperti Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) mewajibkan data publik dan sensitif untuk dikelola di dalam negeri. Dalam konteks ini, pendekatan multi-cloud dengan kombinasi local cloud providers dan open-source stack seperti OpenStack atau Ubuntu menjadi solusi yang lebih adaptif, efisien, dan sesuai dengan lanskap regulasi Indonesia.
Dengan membagi beban kerja ke beberapa platform, perusahaan tidak hanya menghindari single point of failure, tetapi juga dapat melakukan optimasi biaya berdasarkan kekuatan unik setiap penyedia cloud.
Misalnya, Canonical MLOps dengan Charmed Kubeflow dimanfaatkan untuk orkestrasi lifecycle machine learning, sementara Ubuntu OpenStack berperan sebagai fondasi infrastruktur yang menjamin performa pengelolaan data dan analitik, sekaligus memastikan kepatuhan mutlak terhadap prinsip data sovereignty dan regulasi nasional.
Strategi Implementasi
Untuk mencapai efisiensi nyata, adopsi multi-cloud tidak bisa hanya bersifat teknis. Perusahaan dan institusi pemerintah perlu memulainya dengan langkah-langkah strategis seperti:
- Audit beban kerja (workload audit) untuk menentukan layanan mana yang paling efisien di tiap platform.
- Integrasi DevOps lintas cloud, agar tim IT dapat mengelola infrastruktur secara terpusat dan efisien.
- Automasi dan observability, guna mengontrol performa serta biaya di berbagai lingkungan cloud.
- Kemitraan strategis dengan penyedia cloud lokal, agar tetap patuh pada regulasi dan menjaga kedaulatan data nasional.

Langkah-langkah ini terbukti menjadi kombinasi sukses di Eropa dalam menurunkan cloud waste hingga 30%, sekaligus memperkuat business resilience ketika terjadi gangguan global.
Bagi perusahaan di Indonesia, multi-cloud bukan sekadar diversifikasi teknologi, tetapi fondasi untuk membangun bisnis yang lebih efisien, aman, dan mandiri.
Dengan strategi yang tepat, pendekatan ini dapat menekan biaya operasional, meningkatkan kontrol atas data, dan memperkuat posisi korporasi swasta, BUMN, lembaga pemerintah dan layanan publik dalam akselerasi transformasi digital di Tanah Air. Pada akhirnya, keputusan bukan hanya soal “cloud mana yang lebih murah”, melainkan bagaimana organisasi mampu mengorkestrasi berbagai cloud dengan cerdas untuk menjaga efisiensi tanpa kehilangan fleksibilitas.
Di sinilah masa depan efisiensi IT terbentuk: bukan di satu cloud, tetapi di harmoni multi-cloud. ***






