Cloud Outage Black October
Oktober 2025 tercatat sebagai bulan kelam, atau ‘Black October’, bagi ekosistem komputasi awan global. Dua insiden gangguan layanan massal (outage) pada penyedia cloud terbesar, yakni AWS pada 20 Oktober dan Azure pada 29 Oktober, menyebabkan kerugian bisnis yang sangat besar dan mengguncang kepercayaan.
Mengutip dari reuteurs.com, insiden gangguan AWS yang berlangsung selama beberapa jam pada 20 Oktober 2025 mempengaruhi lebih dari 30% lalu lintas cloud global. Kejadian ini menjadi pengingat keras akan kerapuhan infrastruktur cloud yang terpusat. Tak lama berselang, Microsoft Azure juga mengalami outage selama sekitar 8 jam pada 29 Oktober 2025. Bagi Azure, ini kejadian outage kedua setelah sebelumnya Azure mengalami outage di tanggal 9 Oktobernya akibat metadata yang error.
Kejadian outage pada AWS berakar dari masalah pengaturan resolusi DNS di wilayah US-EAST-1, yang mana ini menjadi lokasi terbesar AWS. Dan masalah ini menyebabkan gangguan pada layanan seperti Snapchat, Reddit, Venmo, Ring, dan ribuan situs aplikasi lain, termasuk dampak pada bisnis seperti Wealthsimple dan Perplexity.
Sementara outage pada Azure di tanggal 29 Oktober dipicu oleh perubahan konfigurasi yang tidak disengaja pada layanan Azure Front Door. Insiden ini tidak hanya mengganggu layanan internal Microsoft, namun juga menyebabkan kerugian signifikan pada pihak ketiga, termasuk lumpuhnya situs web dan sistem check-in Alaska dan Hawaiian Airlines, serta operasional bisnis besar lainnya seperti Starbucks, Costco, Vodafone, dan Capital One.
Bagi para CTO, Developer, dan praktisi TI, insiden ini bukan sekadar berita, melainkan juga mendorong pertanyaan yang perlu segera dijawab: Seberapa tangguhkah infrastruktur teknologi cloud Anda saat ini? Kejadian ini menjadi alarm global bahwa ketergantungan tunggal, bahkan pada penyedia terbesar sekalipun, adalah titik kegagalan (single point of failure) yang tidak lagi bisa ditoleransi.
Kita pun harus melangkah lebih jauh dari sekadar memiliki cadangan; kita harus membangun ketahanan atau resiliensi operasional yang proaktif.
5 Langkah Antisipasi Cloud Outage
Berikut pelajaran kritis yang bisa diambil, beserta 5 langkah antisipasi bagi setiap praktisi TI untuk mencegah gangguan cloud di masa depan.
-
Diversifikasi Infrastruktur: Hindari Ketergantungan Tunggal
Gangguan pada AWS terjadi di US-EAST-1, wilayah default yang menjadi tumpuan bagi banyak layanan yang menyebabkan efek domino ke seluruh ekosistem. Banyak bisnis mengalami kendala karena seluruh data dan aplikasi mereka bergantung pada satu layanan tunggal (single point of failure). Sementara dua penyebab outage pada Azure di bulan Oktober 2025, lebih banyak disebabkan kesalahan manusia (human error).
Jika masih bergantung pada satu provider, pertimbangkan untuk menyimpan data dan aplikasi ke beberapa regions dan pastikan failover otomatis berjalan. Selain itu, pertimbangkan juga strategi hybrid-cloud, dengan langkah ini Anda memiliki sistem backup di perangkat cloud lain.
Sehingga untuk mem-backup private cloud, Anda dapat menggunakan provider public cloud lokal untuk backup data kritis, sehingga jika satu layanan down, operasional bisnis bisa berpindah ke layanan cloud lainnya secara otomatis
-
Implementasikan DR/BCP yang Matang dan Uji Secara Rutin
Meskipun layanan cloud menyediakan tools cadangan (backups), banyak perusahaan memangkas biaya atau “potong jalur”, membuat rencana Pemulihan Bencana (Disaster Recovery/DR) hanya sebatas teori di atas kertas. Saat outage terjadi, mereka tidak memiliki rencana eksekusi yang teruji.
Untuk mengatasi hal seperti itu, maka Anda dapat membangun RTO (Recovery Time Objective) dan RPO (Recovery Point Objective) yang ketat, misalnya <5 menit downtime dan <1 menit kehilangan data. Selain itu, gunakan juga Layanan Backup atau Region Replication untuk snapshot otomatis. Lakukan test plan DR secara rutin (minimal setiap kuartal) melalui simulasi outage.
-
Desain Arsitektur Fault-Tolerant dan Highly Available
Gangguan DNS menyebabkan latensi tinggi dan error rates yang mempengaruhi layanan terintegrasi seperti DynamoDB, yang menjadi tulang punggung banyak aplikasi. Bisnis yang tidak merancang sistem redundan akan mengalami downtime total.
Pencegahan dari terulangnya kejadian seperti ini, maka Anda dapat melakukan adopsi arsitektur serverless atau Auto Scaling Groups untuk otomatisasi recovery. Lakukan juga dengan mengintegrasikan monitoring real-time dan alarm yang memicu failover. Hindari ketergantungan pada satu endpoint; gunakan load balancers global.
-
Kembangkan Monitoring Proaktif dan Respons Cepat
Banyak gangguan massal masih berlanjut karena deteksi lambat. Kejadian di tanggal 20 Oktober 2025, AWS baru mengidentifikasi akar masalah setelah 2 jam, dan recovery memakan waktu hingga sore hari. Pemilik bisnis yang bergantung pada layar status page AWS saja terlambat mengambil tindakan mitigasi. .
Agar bisnis Anda tidak mengalami hal seperti ini kembali, implementasikan tools seperti Datadog atau New Relic yang terintegrasi dengan AWS atau Azure untuk deteksi anomali dini. Selain itu, Anda bentuk tim incident response 24/7 dengan playbook jelas, dan lakukan post-mortem analisis setelah setiap insiden, sehingga Anda dapat menilai kembali kelayakan operasional bisnis Anda menggunakan layanan public cloud tersebut.
-
Bangun Kultur Resilience dan Evaluasi Biaya Versus Ketahanan
Over Reliance pada cloud raksasa menunjukkan kerapuhan sistem terpusat, di mana satu glitch bisa merugikan miliaran dolar. Dan kesalahan manusia pada perusahaan cloud kelas global juga selalu mungkin terjadi.
Maka yang dapat Anda lakukan adalah melakukan audit arsitektur secara berkala untuk identifikasi single points of failure. Lakukan investasi dalam pelatihan tim DevOps untuk langkah best practices deployment, dan pertimbangkan penggunaan hybrid cloud (on-premise dan cloud) untuk data sensitif.

Pertimbangkan bahwa biaya downtime (kerugian reputasi, finansial) hampir selalu jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk membangun redundansi dan multi-cloud. Resiliensi adalah investasi, bukan pengeluaran.
Dengan mengadopsi strategi multi-cloud/hybrid-cloud, melaksanakan uji coba DR yang ketat, dan membangun arsitektur yang fault-tolerant, Anda bisa mengurangi risiko downtime hingga 99,99% availability tanpa perlu bergantung pada satu provider.
Bagi para praktisi TI, pesan dari ‘Black October‘ sangat jelas: outage bukanlah masalah “jika” akan terjadi, melainkan “kapan” akan terjadi.
Maka persiapan adalah kunci untuk menjaga operasional bisnis tetap lancar. Untuk memperkuat strategi Disaster Recovery Anda dengan solusi Hybrid-Cloud, segera diskusikan dan konsultasikan gratis dengan tim Sivali Cloud Technology untuk peninjauan strategis resiliensi infrastruktur Anda.***







