Industri teknologi informasi yang terus melaju kencang ternyata menghadapi keterbatasan engineer yang siap mengimplementasikan sistem di lingkungan kerja.
Kebutuhan terhadap talenta digital yang memahami deployment, integrasi sistem, hingga cloud-native pun terus meningkat seiring percepatan adopsi AI dan Internet of Things (IoT). Terlebih, penerapan machine learning serta pemrosesan data di edge network terus mengubah berbagai sektor industri.
Begitu pula perangkat yang saling terhubung serta infrastruktur berbasis container kini telah menjadi kebutuhan standar industri. Hal tersebut disampaikan VP of Technology Sivali Cloud Technology, Farah Zahira, dalam Seminar Series: Future Skills for Computer Engineer yang digelar di Binus University, Kampus Binus Anggrek, Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada Rabu, 6 Mei 2026.
Dalam pemaparannya, dia menyoroti pentingnya pembelajaran akademik yang relevan dengan kebutuhan implementasi teknologi di dunia industri. Sekaligus pula, mendorong pembelajaran yang mengatasi kesenjangan talenta atau disebut talent gap.
“Hambatan terbesar saat ini bukan pada ide, tetapi pada engineer yang mampu mengimplementasikan sistem secara terintegrasi di lingkungan nyata,” ujarnya dalam presentasi bertajuk Bridging the Talent Gap: Aligning Engineering Education with Industry Through Open Source.
Menurut Safira, sapaan akrabnya, kebutuhan industri kini tidak lagi terbatas pada kemampuan teoritis atau penguasaan bahasa pemrograman semata. Perusahaan teknologi mulai membutuhkan engineer yang mampu memahami integrasi perangkat keras dengan sistem perangkat lunak, sistem cloud, machine learning, hingga proses deployment dalam lingkungan produksi.

Pergeseran ke Engineer Deployment-Ready
Safira menjelaskan, banyak lulusan teknik masih terbiasa bekerja di lingkungan laboratorium yang terkontrol sehingga belum cukup terpapar pada kompleksitas sistem di lapangan. Padahal, industri saat ini membutuhkan engineer yang mampu melakukan troubleshooting lintas sistem dan beradaptasi dengan kebutuhan implementasi secara cepat.
Menurut dia, perubahan kebutuhan industri terjadi karena perusahaan kini tidak hanya membangun aplikasi, tetapi juga sistem yang saling terhubung lintas perangkat dan cloud.
Ia mencontohkan, perkembangan AI systems, edge computing, hingga cloud-native infrastructure telah mendorong perubahan besar pada kebutuhan kompetensi talenta digital. Bahkan untuk posisi entry-level, engineer kini mulai bersinggungan dengan berbagai layer teknologi secara bersamaan.
“Industri membutuhkan engineer yang memahami sistem secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada satu layer teknologi,” kata Safira yang merupakan alumni Binus ASO School of Engineering ini.
Dia menambahkan, pemahaman terhadap integrasi AI model, API, automation, hingga user interface mulai menjadi kebutuhan dasar dalam banyak proyek teknologi modern.
Open Source Jadi Jembatan Kampus dan Industri
Safira juga menyoroti penggunaan open source sebagai salah satu pendekatan yang dinilai efektif untuk memperkecil kesenjangan talenta digital. Open source dinilai mampu memberikan akses pembelajaran yang lebih dekat dengan praktik industri karena mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan tools dan workflow yang digunakan secara profesional.
Dalam pandangannya, ekosistem open source seperti Linux, Docker containers, dan Kubernetes kini menjadi fondasi penting dalam infrastruktur digital modern. Menurut dia, penguasaan teknologi tersebut dapat membantu mahasiswa memahami bagaimana sistem dibangun, dijalankan, dan dipelihara.
“Open source memperkenalkan mahasiswa pada kompleksitas sistem di dunia nyata secara lebih mudah diakses dan dapat dikembangkan dalam skala luas. Ekosistem ini jadi jembatan antara pembelajaran akademik dan praktik industri,” ujarnya.
Lebih lanjut dipaparkan bahwa Linux Foundation menjadi fondasi utama infrastruktur modern dan lingkungan server, lantas Docker Containers merupakan standardisasi packaging aplikasi agar implementasi dapat berjalan konsisten di berbagai lingkungan.
Begitu pula, Kubernetes diandalkan sebagai platform orkestrasi yang mendukung aplikasi cloud-native secara global.

Keunggulan Ekosistem Open Source
Ekosistem sumber terbuka ini juga menawarkan berbagai keunggulan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan engineer di dunia nyata karena mendorong eksplorasi dan kemampuan pemecahan masalah secara mandiri atau self-directed learning.
“Ekosistem open source memperkenalkan mahasiswa pada tools dan alur kerja yang benar-benar digunakan di lingkungan profesional serta ‘debugging skills’ lantaran membentuk kemampuan troubleshooting secara sistematis lintas lapisan sistem,” kata Safira.
Open source juga menarik bagi mahasiswa dengan keunggulannya membangun sistem yang terdokumentasi, mudah dipelihara, dan dapat di replikasi atau reproducible systems.
Selain itu, Safira menekankan pentingnya kolaborasi antara kampus dan industri agar proses transisi mahasiswa menuju dunia kerja dapat berjalan lebih relevan. Bentuk kolaborasi tersebut dapat dilakukan melalui dosen tamu dari kalangan profesional, proyek bersama, program magang terstruktur, hingga kontribusi dalam ekosistem open source.
Menurut dia, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat talenta digital muda seiring meningkatnya kebutuhan teknologi di sektor energi, infrastruktur, AI, hingga Industrial IoT. Karena itu, mahasiswa dinilai perlu mulai membangun pengalaman praktis sejak dini agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu membangun dan mengembangkan sistemnya.
“Fondasi akademik tetap penting, tetapi perlu diperluas ke praktik implementasi di dunia nyata,” kata Safira.
Bagi mahasiswa teknik dan talenta digital muda, penguasaan open source dinilai tidak lagi sekadar nilai tambah, melainkan mulai menjadi kebutuhan dasar untuk menghadapi perubahan industri teknologi yang bergerak semakin cepat.
MoU Sivali dan Binus University
Dalam rangkaian acara yang sama, juga digelar penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding antara Universitas Bina Nusantara (Binus University) dengan PT Sivali Catur Lestari (Sivali Cloud Technology). Penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Direktur Sivali Cloud Technology, Wong Sui Jan dan Dekan Fakultas Teknik Binus University Dr Nina Nurdiani.
Melalui MoU ini, kedua pihak membentuk kerangka kerja sama strategis, yang mencakup, pertama, pendidikan, pelatihan, dan penelitian di bidang teknologi informasi, khususnya cloud computing dan open-source.
Kedua, memfasilitasi mahasiswa dan dosen dalam memperoleh sertifikasi internasional “Sertifikasi Internasional Canonical Academy (SysAdmin)”. Ketiga, pembangunan ekosistem teknologi berbasis open-source di lingkungan akademik dan keempat, penguatan jejaring akademik dan industri melalui seminar, bootcamp, workshop, maupun program magang.
Sertifikasi Internasional Canonical Academy atau SysAdmin sendiri merupakan program resmi pengembangan kapasitas dan sertifikasi internasional dari Canonical, yang dikelola oleh Sivali di Indonesia.

Diungkapkan oleh Wong Sui Jan, pihaknya sangat bangga dan antusias dengan kerja sama dengan Binus University ini. Terlebih ruang lingkup kolaborasi juga meliputi pendidikan, pelatihan, riset dan inovasi.
“Di antaranya meliputi pengembangan kurikulum berbasis industri yang terintegrasi dengan Sertifikasi Internasional Canonical Academy, lalu pelatihan teknis seperti Linux Administration, Kubernetes, OpenStack, Virtualization, Cloud Computing, dan sebagainya,” paparnya.
Selain itu,kerja sama mencakup program magang, perekrutan, program volunteer, hingga pendirian komunitas open source di lingkungan kampus. Sivali dan Binus juga bersepakat kerja sama ini dapat berkembang menjadi federasi antar kampus di bidang teknologi cloud dan Linux Ubuntu.
Kolaborasi tersebut dilandasi kebutuhan peningkatan kompetensi teknologi informasi, khususnya dalam bidang cloud computing, cloud-native, open-source platform, serta keamanan data. Fenomena inipun diyakini membutuhkan kerja sama erat antara dunia industri dan pendidikan tinggi.
Langkah bersama tersebut guna meningkatkan kompetensi mahasiswa dan dosen agar siap menghadapi kebutuhan industri global serta membangun ekosistem inovasi yang mendukung riset, pengembangan teknologi, serta pemanfaatan solusi open-source.
Tak kalah penting pula juga untuk memberikan akses lebih luas terhadap program sertifikasi internasional Canonical Academy (SysAdmin) yang berfokus pada peningkatan keterampilan teknologi terkini. ***



