BANDUNG, Cloud In Asia – Di tengah riuhnya industri teknologi Indonesia yang didominasi oleh tren pengembangan antarmuka (UI/UX) dan web development, dua mahasiswa Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Bandung, Rifa Fida dan Muhammad Hafizah Ramadhani, memilih jalur yang jarang dilalui rekan sejawatnya: menyelami “mesin” di balik internet, yakni Cloud Computing.
Mahasiswa Teknik Informatika Angkatan 2022 ini tidak hanya mempelajari teori. Mereka berhasil mempraktikkan implementasi infrastruktur cloud kelas enterprise menggunakan teknologi open source dari Ubuntu, yakni OpenStack dan MicroCloud. Sebuah langkah berani yang membuka mata mereka bahwa membangun infrastruktur sekelas penyedia layanan cloud global kini bisa dilakukan secara mandiri dan efisien.
Menemukan “Wow Moment” di OpenStack
Bagi Rifa Fida, ketertarikannya pada dunia jaringan membawanya pada tantangan untuk men-deploy OpenStack, sebuah platform cloud computing standar industri. Pengalaman ini mengubah perspektifnya tentang bagaimana infrastruktur IT bekerja.
“Momen yang paling berkesan itu menurut saya ketika berhasil deploy. Waktu membuka dashboard OpenStack-nya, itu menurut saya paling ‘wah’. Ternyata infrastruktur kampus yang sebelumnya serba manual, bisa berubah jadi sistem terpusat, fleksibel, dan scalable seperti cloud provider profesional,” ujar Rifa antusias ketika ditemui Cloud in Asia di kampus UKRI yang berada di kawasan Jalan Terusan Halimun, Kota Bandung, Selasa (27/01/2026).
Namun, perjalanan menuju keberhasilan itu bukan tanpa tantangan. Rifa menceritakan proses konfigurasi tiga node (Controller, Compute, dan Storage) membutuhkan ketelitian tinggi.
“Konfigurasi dari Controller ke Compute dan Storage itu susah. Butuh waktu, tapi setelah instalasi selesai, saya jadi sadar bahwa teknologi ini nyata dan bisa dipelajari,” tambahnya. Keberhasilan ini tidak hanya memberinya skill teknis, tetapi juga kepercayaan diri bahwa ia tidak lagi “awam” dalam dunia server dan cloud.
Peluang di Tengah Pasar yang Jenuh
Di luar hal teknis dan perkembangan teknologi, ada sisi lain lain yang mengemuka dalam perbincangan dengan kedua mahasiswa tersebut. Muhammad Hafizah Ramadhani menilai, pasar tenaga kerja IT di Indonesia sudah mengalami oversupply di sektor Front-end, Back-end, dan UI/UX.
“Alangkah baiknya jika kita berkecimpung di Cloud Computing. Selain belum terlalu populer di Indonesia, ini memberikan poin lebih untuk keahlian kita,” ungkap Hafiz, sapaan akrab alumni SMK Terpadu Ad Dimyati ini.
Pilihan Hafiz lantas jatuh pada MicroCloud dari Canonical. Ia menyoroti kemudahan dan efisiensi teknologi ini, terutama bagi mereka yang ingin membangun home server. “MicroCloud terbilang lebih mudah, terjangkau, dan tidak berat di biaya. Keamanannya pun terjamin karena mewarisi sistem keamanan dari Ubuntu,” jelasnya.

Eksperimen Hafiz dengan tiga node MicroCloud memberinya wawasan tentang ketangguhan sistem. Ia terkesan dengan fitur high availability, di mana jika satu node mengalami gangguan, sistem dapat dipulihkan tanpa mematikan keseluruhan operasional.
“Saya jadi penasaran, seberapa kuat MicroCloud ini jika diserang (hacking) dan bagaimana cara menanggulanginya,” tutur Hafiz yang kini semakin tertarik mendalami aspek keamanan cloud.
Teknologi Gratis yang Membuka Peluang Karir
Kisah Rifa dan Hafiz membuktikan bahwa mempelajari teknologi cloud kini semakin mudah. Dengan solusi gratis dan open source dari Ubuntu, mahasiswa dapat melakukan simulasi infrastruktur skala industri langsung dari laboratorium kampus atau bahkan rumah mereka.
Hafiz juga memberikan pesan kuat bagi rekan-rekan mahasiswa IT di seluruh Indonesia.
“Berikanlah poin lebih dari dirimu. Meskipun nanti kuliah masuk jurusan yang fokus ke software development, berkecimpunglah dengan hal lain seperti cloud computing agar poin keahlian kita bertambah saat terjun di dunia kerja nanti, tandas Hafiz.
Keberhasilan dua mahasiswa UKRI Bandung ini menjadi bukti nyata bahwa masa depan IT tidak hanya tentang menulis kode aplikasi, tetapi tentang bagaimana membangun infrastruktur yang ingin kita jalankan. Dan kuncinya ada pada kemauan untuk mengeksplorasi teknologi open source yang tersedia luas.***





