Kontributor: Nabila Sarwadan
Refleksi Perjuangan 10 November
Delapan puluh tahun silam, Bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan fisik. Hari ini, perjuangan itu berlanjut dalam bentuk baru berupa menjaga kedaulatan dan keamanan data digital di tengah gempuran layanan teknologi yang berimplikasi ketergantungan pada vendor asing.
Jika dulu musuh datang membawa senjata, kini bentuknya berganti menjadi proprietary software dan public cloud asing.
Seiring transformasi digital yang pesat, isu keamanan data, regulasi penyimpanan data dan kendali atas data bangsa sendiri makin disorot pemerintah, komunitas TI serta kalangan akademisi . Beberapa aturan seperti Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), Peraturan OJK, serta kebijakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) menegaskan: data strategis dan sensitif milik negara tidak boleh disimpan di cloud asing.
Langkah ini bukan semata-mata bentuk proteksi, tapi strategi menjaga kedaulatan digital atau digital sovereignty agar data warga negara tidak dikendalikan dari luar yurisdiksi hukum Indonesia.

“Kedaulatan digital itu bentuk perjuangan masa kini. Dulu kita berperang dengan peluru, sekarang kita harus berjuang dengan kebijakan, talenta, dan infrastruktur yang berdiri di tanah sendiri,” ujar Veros Mohamed, VP Product & Solutions, Sivali Cloud Technology.
Penegasan Veros itu bukan tanpa dasar. Menurut riset Mordor Intelligence dan Litbang Kompas , sekitar 52% perusahaan Indonesia yang menggunakan cloud-based software melaporkan peningkatan efektivitas operasional. Di balik angka yang menunjukkan manfaat besar dari cloud, namun ada fenomena ketergantungan tinggi terhadap penyedia asing seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft Azure, yang menguasai lebih dari 60% pangsa pasar cloud publik di Indonesia.
Pasar Enterprise Software Indonesia sendiri diperkirakan mencapai US$ 546,35 juta pada 2025 (Statista), dengan segmen proprietary software masih mendominasi, misalnya pasar Proprietary Digital Signage Software yang bernilai US$ 64,26 juta pada 2024 (Data Bridge Market Research).
Namun arah angin mulai berubah. Riset Bonafide Research memproyeksikan pasar Open Source Services Indonesia tumbuh lebih dari 20,98% CAGR (2025–2030). Ini sinyal kuat bahwa perusahaan dan lembaga mulai beralih ke solusi terbuka yang lebih aman, transparan, dan mandiri.
Open Source Sebagai Jalan Kemandirian
Dalam keamanan data nasional, Veros mengungkapkan lebih lanjut bahwa teknologi open source menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki oleh sistem proprietary tertutup, seperti transparansi kode, dimana pemerintah dan institusi bisa memeriksa serta mengaudit keamanan sistem sendiri.
Selain itu perusahaan juga memiliki kedaulatan operasional, dimana teknologi bisa di-deploy di data center lokal tanpa bergantung pada jenis perangkat keras tertentu yang dikuasai oleh vendor asing. “Kelebihan lainnya adalah efisiensi biaya, dimana biaya lisensi menjadi lebih fleksibel dan hemat untuk skala besar, termasuk di sektor publik, keuangan, kesehatan, transportasi dan pendidikan,” kata Veros yang juga Ketua Umum Komunitas Ubuntu Indonesia.
Kolaborasi antara perusahaan TI Indonesia yang fokus pada komputasi awan seperti Sivali Cloud Technology dan mitra global penyedia teknologi open source dari Canonical Ubuntu menjadi contoh nyata strategi ini. Keduanya menggabungkan standar global dengan dukungan lokal yang sesuai regulasi Indonesia.
Perjuangan Digital, Semangat yang Sama
Masih merujuk momentum menjelang Pertempuran Surabaya 10 November 1945 silam di, Bung Tomo berorasi , “Selama banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapapun juga.” Kini, makna “tidak menyerah” itu berubah wujud. Bukan lagi di medan perang, tapi di pusat data, kebijakan keamanan, dan adopsi teknologi mandiri.
Kedaulatan digital bukan sekadar jargon teknis, melainkan lanjutan dari semangat para pahlawan kita 10 November. Indonesia harus memastikan setiap bit data, setiap server, dan setiap kode program bekerja di bawah kendali bangsa sendiri.
Dengan potensi pasar cloud nasional yang terus tumbuh dan semangat inovasi open source yang kian kuat, Indonesia punya peluang besar untuk tidak hanya menjadi pengguna, tapi juga pencipta teknologi. Seperti perjuangan Bung Tomo 80 tahun lalu, perjuangan hari ini juga memerlukan keberanian untuk melawan ketergantungan, membangun kemandirian, dan menegakkan kedaulatan digital. ***







