Jika kebanyakan orang hanya terpukau pada kecanggihan AI dengan menggunakannya sebagai pengguna, Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS) bekerja sama dengan Onno Center dan beberapa perusahaan teknologi di Indonesia mengadakan kegiatan berjudul IT CAMP 2025 yang justru mengajak generasi muda untuk mengambil kendali sebagai pengatur teknologi AI itu sendiri.
Acara yang dilaksanakan selama 2 hari 1 malam dari tanggal 8-9 November 2025 mengusung tema “Build Your Own AI: Open, Local, and Powerful”. Konsep acara ini bukan sekadar seminar teknis biasa, namun juga memberikan wawasan yang membangun semangat kemandirian digital para peserta, yaitu semangat untuk tidak bergantung sepenuhnya pada layanan cloud raksasa, melainkan mampu membuat teknologinya sendiri.
Melawan Ketergantungan dengan Ekosistem Terbuka

Semangat “Generasi Pembuat” terasa kental dalam setiap sesi. Dalam sesi pemaparan dari AMD Indonesia, pemateri tidak sekadar memamerkan perangkat keras mereka, melainkan juga membuka wawasan tentang kebebasan berinovasi. Melalui ekosistem ROCm 7 dari AMD yang bersifat open-source mereka memperlihatkan framework populer seperti PyTorch dan TensorFlow yang berjalan mulus. Ditambah dengan teknologi Unified Memory pada prosesor Ryzen AI, hal ini memungkinkan CPU, GPU, dan NPU berbagi memori yang sama tanpa perlu repot menyalin data bolak-balik. Semua keunggulan ini memberikan fleksibilitas tanpa harus terjebak dalam kondisi vendor lock-in dan batasan efisiensi.
Sovereign Edge AI: Kedaulatan di Tangan Sendiri
Di sesi yang lain, Fidelito dari Sivali Cloud Technology menjelaskan konsep Sovereign Edge AI. Tema ini diangkat oleh Sivali sebagai jawaban atas kekhawatiran masalah privasi data digital di Indonesia beberapa bulan terakhir ini.

Menurut Fidelito sebagai Cloud Engineer AI di Sivali, infrastruktur komputasi harus berada dalam kendali penuh kita demi kedaulatan data. Alih-alih melempar data ke server antah-berantah, dalam demonya, tim Sivali membuktikan ketangguhan perangkat NVIDIA Jetson Orin Nano berbasis Ubuntu dalam menjalankan AI langsung di dalam perangkat. Hasilnya? Model deep learning canggih bisa berjalan offline, cepat, dan aman.
Infrastruktur Tangguh dan Praktik Nyata
Di acara IT Camp 2025 ini juga D-Link hadir melengkapi materi dengan membedah perbedaan krusial antara perangkat rumahan dan industri. Mereka menunjukkan bahwa menjaga konektivitas sistem AI dan IoT di sektor bisnis membutuhkan ketahanan ekstra dan manajemen jarak jauh yang mumpuni.

Puncak antusiasme peserta terjadi di sesi workshop. Di sini, teori berubah menjadi aksi nyata. Para peserta diajak membangun Local LLM Server menggunakan Ollama di atas Ubuntu 24.04 LTS.
Terlebih saat para peserta menyadari bahwa model bahasa besar (LLM) seperti DeepSeek dan Qwen ternyata bisa dijalankan secara lokal hanya dengan CPU Xeon, tanpa wajib memiliki GPU kelas atas yang mahal. Fitur RAG (Retrieval-Augmented Generation) pun diperkenalkan yang memungkinkan AI memproses dokumen internal tanpa mengorbankan privasi. Semua materi dan praktek yang ditunjukkan kepada para peserta menjadi sebuah solusi cerdas untuk bisnis masa depan yang lebih efisien, efektif dan aman.

Membangun Masa Depan, Bukan Sekadar Memakai
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan pesan kuat dari rektor ITTS, Prof. Onno W. Purbo. Beliau menegaskan bahwa masa depan teknologi tidak dibangun oleh mereka yang hanya bisa menekan tombol, tetapi oleh mereka yang paham cara kerjanya sejak dini. Integrasi kurikulum AI dan coding dari jenjang sekolah dasar adalah kunci untuk mencetak generasi yang kritis dan adaptif.
Acara IT CAMP 2025 membuktikan satu hal, bahwa teknologi hanyalah alat. Dan manusia di belakangnyalah yang berani bereksperimen dan berkolaborasi yang membuatnya lebih bermakna. Dengan ekosistem yang tepat, anak muda Indonesia siap melompat jauh lebih tinggi, lebih dari sekedar menjadi penonton di negeri sendiri.***







