Cloud in Asia
  • Berita
  • Review
  • Opini
  • Tutorial
No Result
View All Result
  • Cloud Computing
  • Cloud Native Computing
  • VMware
  • OpenStack
  • Kubernetes
  • Linux
  • Red Hat
  • Ubuntu
Cloud in Asia
  • Berita
  • Review
  • Opini
  • Tutorial
No Result
View All Result
Cloud in Asia
No Result
View All Result
Home Berita

Eropa Pilih Open Source dan Cloud Demi Kedaulatan Digital, Apa Pelajarannya bagi Indonesia?

Nabila Sarwadan by Nabila Sarwadan
April 30, 2026
in Berita
0
Eropa Pilih Open Source dan Cloud Demi Kedaulatan Digital, Apa Pelajarannya bagi Indonesia?
0
SHARES
83
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Dalam beberapa tahun terakhir, isu kedaulatan data berubah dari sekadar wacana teknologi menjadi strategi geopolitik. Negara-negara Eropa mulai menyadari bahwa ketergantungan pada infrastruktur teknologi global bukan hanya persoalan bisnis, tetapi juga menyangkut keamanan nasional, kontrol data publik, dan kemandirian teknologi.

Karena itu, banyak pemerintah mulai mengevaluasi kembali sistem operasi, platform cloud, serta ekosistem perangkat lunak yang menopang layanan publik mereka. Bagi Indonesia, dinamika di Eropa menjadi salah satu perkembangan yang patut dicermati sebagai bahan pembelajaran dalam membangun infrastruktur digital nasional.

Salah satu perubahan penting dari strategi tersebut adalah meningkatnya peran teknologi open source sebagai fondasi infrastruktur digital nasional. Dalam banyak proyek cloud pemerintah dan industri di Eropa, sistem operasi tidak lagi sekadar perangkat teknis, tetapi menjadi lapisan strategis. Di sinilah Ubuntu dan varian enterprise-nya, Ubuntu Pro, banyak digunakan sebagai fondasi lingkungan cloud modern.

Ubuntu dalam Ekosistem Cloud Global

Ubuntu saat ini menjadi salah satu sistem operasi server yang paling banyak digunakan dalam lingkungan cloud modern. Sistem operasi berbasis Linux yang dikembangkan Canonical ini dikenal karena stabilitas, dukungan komunitas global, serta kompatibilitasnya dengan berbagai platform cloud hyperscale.

Dominasi Ubuntu dalam ekosistem cloud juga terlihat pada layanan penyedia cloud global seperti Amazon Web Services (AWS), yang menyediakan berbagai image server berbasis Ubuntu serta opsi Ubuntu Pro pada layanan Amazon EC2.

Hal ini menunjukkan bahwa bahkan dalam ekosistem cloud global yang didominasi perusahaan teknologi besar, open source tetap menjadi fondasi utama infrastruktur komputasi.

Menurut Canonical, Ubuntu Pro menawarkan pembaruan keamanan hingga sepuluh tahun serta perlindungan tambahan untuk ribuan paket open source. Dukungan jangka panjang seperti ini penting bagi pemerintah dan industri yang mengelola layanan publik atau sistem kritikal, karena infrastruktur digital tidak dapat sering berganti sistem operasi dalam waktu singkat.

Ubuntu dan Inisiatif Sovereign Cloud di Eropa

Hubungan antara Ubuntu dan strategi kedaulatan digital Eropa semakin terlihat dalam pengembangan infrastruktur cloud berorientasi data sovereignty. Canonical mengumumkan bahwa Ubuntu dan Ubuntu Pro menjadi bagian dari ekosistem teknologi dalam pengembangan AWS European Sovereign Cloud yang dirancang memenuhi regulasi data Uni Eropa.

 AWS European Sovereign Cloud dirancang agar operasional dan pengelolaan data tetap berada di wilayah Uni Eropa serta mengikuti regulasi lokal yang ketat. Integrasi Ubuntu dalam ekosistem ini menunjukkan bahwa teknologi open source menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun infrastruktur cloud yang lebih transparan dan fleksibel.

Model ini menunjukkan bahwa kedaulatan digital tidak selalu berarti menolak cloud global, tetapi mengatur arsitektur teknologi agar data tetap berada dalam yurisdiksi sendiri.

Pelajaran bagi Indonesia

Perkembangan di Eropa menunjukkan bahwa banyak negara kini memadukan platform cloud global dengan teknologi open source untuk menjaga keseimbangan antara inovasi, keamanan, dan kontrol terhadap data. Bagi negara-negara yang sedang membangun infrastruktur digital nasional, termasuk Indonesia, pendekatan ini menjadi contoh bahwa cloud global dan open source dapat dipadukan sebagai fondasi kedaulatan digital.

Pengajar Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS), Agung Budi Prasetio, menilai migrasi ke open source bukan hanya menghasilkan efisiensi lisensi, tetapi juga membangun kapasitas sumber daya manusia digital dalam negeri.

“Setiap rupiah yang diinvestasikan dalam membangun SDM yang mahir OpenStack, Kubernetes, dan Linux kernel development adalah investasi yang tidak meninggalkan negara,” kata Agung ketika dihubungi Cloud in Asia beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan, tidak ada solusi cloud pemerintah yang benar-benar berdaulat apabila infrastruktur intinya masih bergantung pada proprietary black box vendor asing.

Menurut Agung, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan memanfaatkan infrastruktur cloud global yang telah tersedia, sambil membangun lapisan sovereign infrastructure sendiri untuk data dan layanan paling sensitif.


Pemegang gelar PhD dari Universiti Teknikal Malaysia Melaka ini lantas menuturkan, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa dengan memanfaatkan infrastruktur cloud global yang telah tersedia.

 Ia mencontohkan, Google Cloud Jakarta Region dan AWS Jakarta Region dapat dijadikan tier-1 availability zone, sementara pemerintah membangun lapisan Govcloud berbasis open source untuk menampung data dan layanan paling sensitif.

Open source, khususnya Ubuntu dan ekosistem Linux yang melingkupinya, dinilainya realistis untuk diadopsi Indonesia, dengan catatan bahwa adopsinya memerlukan roadmap yang jelas, political will yang konsisten, dan investasi terstruktur dalam pengembangan SDM.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu, melainkan apakah Indonesia memiliki political will untuk membuat pilihan strategis yang tepat,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Komunitas Ubuntu Indonesia, Veros Muhamed, menilai tantangan Indonesia bukan terletak pada ketersediaan teknologi open source, melainkan pada belum terbangunnya ekosistem yang memperlakukan open source sebagai kerangka strategis pembangunan digital nasional.

“Komunitas open source sering dilihat hanya sebagai simbol, bukan sebagai kerangka kerja yang bisa mendukung kedaulatan dan kemandirian digital Indonesia,” katanya.

Veros, yang juga merupakan profesional di industri komputasi awan dan open source menambahkan, tingginya adopsi Ubuntu di lingkungan cloud modern tidak lepas dari posisinya yang sejak lama menjadi titik masuk pembelajaran Linux dan open source, sehingga banyak profesional TI yang tumbuh bersama Ubuntu kini menempati posisi strategis di industri dan organisasi.

Dengan meningkatnya kebutuhan akan keamanan data, efisiensi infrastruktur, dan kemandirian teknologi, model yang memadukan open source dengan cloud global diperkirakan akan semakin relevan bagi banyak negara dalam beberapa tahun ke depan. ***

Tags: digital sovereigntyeropaopen source
Contact Us
To say hi, partnership, Press Release, and other collaborations, please contact;
Email: editor@cloudinasia.com

DMCA.com Protection Status
  • About CloudIn.Asia
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

© 2026 Cloud in Asia - Connecting Cloud Community.

  • Login
No Result
View All Result
  • Berita
  • Review
  • Opini
  • Tutorial

© 2026 Cloud in Asia - Connecting Cloud Community.