TANGERANG SELATAN, Cloud In Asia – Pengembangan aplikasi dan software development semakin marak dilakukan para mahasiswa IT. Jika sebelumnya mereka menggunakan basis proprietary tertutup, kini kian jamak membangun perangkat lunak dengan fondasi infrastruktur cloud berbasis open source.
Satu di antaranya ialah Rizkyana Nurfadillah. Mahasiswa Institut Teknologi Tangerang Selatan Jurusan Teknologi Informasi ini membangun microcloud mandiri sebagai laboratorium teknisnya sendiri. Dengan memanfaatkan Ubuntu Core dan teknologi container, ia merancang segmentasi jaringan, isolasi layanan, hingga cluster berbasis LXD menggunakan perangkat sederhana.
“Saya mulai mengenal dunia ini sejak kelas 6 SD. Saat itu fasilitas saya sangat terbatas karena hanya memiliki laptop Dual Core dengan RAM 4GB. Karena Windows terasa berat, saya mulai beralih ke Ubuntu,” ujarnya kepada Cloud In Asia.
Keputusan tersebut membuka eksplorasi yang lebih dalam terhadap sistem operasi, virtualisasi, dan jaringan.
“Saya menyadari bahwa Linux memberikan keleluasaan untuk belajar konsep komputasi yang mendalam tanpa batasan lisensi.”
Miniatur Cloud Berbasis Open Source
Eksperimen Rizkyana tidak berhenti pada instalasi sistem. Ia membangun microcloud menggunakan dua Raspberry Pi yang dikonfigurasi menjadi LXD cluster, dilengkapi segmentasi VLAN, firewall berlapis, serta isolasi layanan berbasis subnet internal.
Pendekatan ini memberikan transformasi pergeseran cara pandang dirinya dari awalnya sekadar teknis lantas kini ke arsitektural. Dulu fokus saya hanya bagaimana sistem bisa berjalan. Sekarang saya melihat infrastruktur IT sebagai arsitektur yang harus dibangun seefisien mungkin,” kata Rizkyana.
Ia menekankan bahwa desain sistem menjadi kunci utama. Tujuannya bukan hanya membuat sesuatu yang berfungsi, tetapi membangunnya dengan prinsip efisiensi tingkat tinggi,” ujar mahasiswa angkatan 2024 tersebut.
Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan enterprise terhadap infrastruktur cloud dapat dipelajari secara mandiri melalui teknologi open source, bahkan dari perangkat entry-level.
Selain soal efisiensi, Perubahan paradigma lain yang ia serap yakni tentang keamanan data. Dia semakin memahami bahwa teknologi bukan sekadar menghubungkan perangkat, tetapi bagaimana membangun sistem yang tangguh untuk menjamin integritas data di dalamnya.
Arah Karier Talenta Digital
Bagi Rizkyana, open source bukan hanya tentang sekadar alternatif teknologi. Lebih dari itu, sistem kode terbuka memberi peluang karier yang luas “Sangat bisa diandalkan. Karier masa depan di bidang Cloud Computing hingga Blockchain semuanya dibangun di atas fondasi Open Source,” ujar dia.
Dituturkannya pula, selama proses belajar dan implementasi open source, dia mendapat momen berkesan dan menguatkan keyakinan bahwa teknologi sangat relevan dengan praktik industri.
“Ada dua pengalaman teknis yang paling berkesan bagi saya. Pertama adalah saat saya mendalami LXD di ekosistem Ubuntu. Ternyata ada teknologi system container yang rasanya seperti VM namun jauh lebih ringan dan ideal untuk penggunaan harian saya dibandingkan solusi lain,” paparnya.
Kedua adalah ketertarikannya pada Blockchain Architecture. Dia melihat ini bukan soal tren pasar kripto, melainkan teknologi revolusioner di baliknya, yaitu konsep immutable data. Teknologi ini bisa menyelesaikan banyak kasus manipulasi data sensitif karena sifatnya yang tidak bisa diubah sepihak.
Selain aspek teknis, momen berkontribusi di komunitas Sahabat Ubuntu Indonesia juga berkesan karena memberinya keyakinan yang kuat bahwa Open Source adalah tentang kebebasan atau freedom. “Kita tidak terikat pada satu ekosistem vendor tertentu dan siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi,” kata Rizkyana.
Kembali Ke Hal Fundamental
Di sisi lain, akan menjadi tak berimbang jika pengalaman menggeluti teknologi ini tanpa paparan kendala yang mesti ia hadapi. Tantangan terbesarnya adalah transisi pemahaman dari jaringan fisik ke Cloud Native.
Hal ini berangkat dari latar belakang kapasitas Rizkyana yang awalnya mendalami jaringan dan virtualisasi. “Saya perlu waktu untuk beradaptasi dengan konsep High Availability (HA) di lingkungan cloud. Saya harus belajar bagaimana membangun sistem yang tetap stabil meskipun ada komponen yang gagal,” ungkapnya.
Pantang menyerah, dia enggan terlalu lama berkutat di kubangan masalah. Dengan tangkas, ia segera memulai proses penyelesaian dengan kembali ke dasar. “Saya membedah cara kerja sistem operasi dan jaringan secara mendalam, bukan hanya di permukaan. Saya belajar bahwa pemahaman fundamental yang kuat adalah kunci untuk memecahkan masalah kompleks di lapisan infrastruktur modern,” ulasnya berbagi semangat problem solving.
Ia juga melihat antusiasme yang tumbuh di komunitas mahasiswa. “Teman-teman sangat antusias karena Open Source menawarkan kesempatan belajar tanpa batas biaya,” ungkapnya.
Fenomena ini, imbuh dia, menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi terbuka memberi peluang bagi anak muda untuk membangun kompetensi infrastruktur tanpa hambatan lisensi atau biaya besar.
Eksperimen yang dilakukan Rizkyana menjadi refleksi yang lebih luas tentang posisi talenta cloud Indonesia. Di tengah kebutuhan industri terhadap arsitek infrastruktur dan spesialis cloud, kapasitas tersebut mulai tumbuh dari level mahasiswa.
Hal ini juga memperjelas masa depan kedaulatan digital di Tanah Air tidak hanya berbicara tentang kepemilikan pusat data, tetapi juga tentang kemampuan merancang dan mengelola arsitekturnya secara mandiri. Dan, para mahasiswa sebagai bagian generasi muda Indonesia sangat bisa diandalkan untuk membangunnya. ***
