Perkembangan teknologi cloud computing yang semakin kompleks memunculkan kebutuhan solusi infrastruktur yang lebih ringan, terbuka, dan mudah diadopsi. Di tengah dominasi platform cloud berskala besar, pendekatan private cloud berbasis open-source mulai mendapat perhatian, khususnya untuk kebutuhan edukasi, laboratorium, dan organisasi berskala kecil hingga menengah.
Isu ini menjadi fokus dalam sesi NetClass, sebuah rangkaian workshop teknologi NetComp, acara tahunan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Vokasi UGM. Pada sesi NetClass tahun ini, panitia membuat sesi NetClass Special Edition yang membahas pembangunan private cloud menggunakan MicroCloud, arsitektur cloud open-source yang dikembangkan oleh Canonical.
Sesi NetClass Special Edition tahun ini diisi oleh para pemateri dari Sivali Cloud Technology, yaitu Ryo Ardian, Executive VP Sivali; Safira Zahira, Product Manager Sivali; dan Jema Mawaldi selaku Cloud Engineer Sivali. Kegiatan ini juga didukung oleh sejumlah mitra industri, antara lain ID Networkers, Hostinger, Hacktrace by Spentera Group, dan Sivali Cloud Technology.
Dorongan Upskilling di Tengah Perubahan Teknologi
Dalam sesi pembukaan, diungkapkan fenomena perubahan teknologi yang cepat menuntut individu untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga aktif meningkatkan kompetensi. ID Networkers, sebagai penyedia pelatihan dan sertifikasi IT dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, menegaskan pentingnya pembelajaran berkelanjutan di bidang jaringan, cloud, keamanan siber, hingga sistem operasi.
Pendekatan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri dinilai menjadi faktor kunci agar talenta IT mampu bertahan dan berkembang di tengah disrupsi teknologi.
MicroCloud: Cloud Terbuka yang Modular dan Ringan
Jema Mawaldi, seorang cloud engineer dan profesional Network Operation Center (NOC) yang juga berasal dari lingkungan akademik Institut Teknologi Tangerang Selatan menjadi salah satu pemateri dalam sesi NetClass Special Edition tersebut. Ia menjelaskan penggunaan MicroCloud sebagai stack cloud modular berbasis open-source yang dirancang untuk menyederhanakan implementasi private cloud.
MicroCloud terdiri dari beberapa komponen utama, antara lain:
- MicroCloud sebagai orkestrator inti,
- MicroOVN untuk software-defined networking (SDN),
- LXD sebagai container hypervisor,
- MicroCeph untuk storage terdistribusi dan replikasi data.

Menurut Jema, pendekatan modular ini memungkinkan pengguna menyesuaikan arsitektur cloud sesuai kebutuhan, termasuk integrasi dengan NAS eksternal, otomatisasi menggunakan Juju dan Terraform, serta monitoring melalui Grafana dan Prometheus.
“MicroCloud memberikan fleksibilitas bagi pengguna yang ingin membangun cloud tanpa kompleksitas berlebihan seperti pada platform enterprise,” jelasnya dalam sesi tersebut.
Relevansi MicroCloud Bagi Infrastuktur Modern
Dari sisi industri, Jema Mawaldi yang merupakan seorang profesional di bidang cloud computing yang bekerja sebagai cloud engineer di Sivali Cloud Technology menilai MicroCloud sebagai solusi yang relevan bagi organisasi yang membutuhkan kontrol penuh atas infrastrukturnya. Dengan dukungan GUI dan CLI, MicroCloud memberi ruang untuk menjembatani kebutuhan teknis antara engineer berpengalaman dan pengguna di lingkungan edukasi atau lab.
Dia juga menyoroti keunggulan high availability melalui mekanisme clustering dan auto-failover. Dengan konfigurasi minimal tiga node, sistem mampu menjaga ketersediaan layanan meskipun salah satu node mengalami kegagalan, dengan latensi perpindahan layanan yang relatif singkat.
Pendekatan ini dianggap cocok untuk skenario private cloud berskala kecil hingga menengah, terutama bagi institusi yang ingin membangun ekosistem cloud mandiri berbasis open-source.
Aspek Teknis dan Implementasi
Secara teknis, MicroCloud direkomendasikan untuk dijalankan diatas Ubuntu LTS, meskipun dapat juga dijalankan di distro Linux lain yang mendukung snap package. Workshop ini juga membahas spesifikasi minimum untuk menjalankan MicroCloud, seperti:
- Tiga node fisik atau virtual,
- Dua antarmuka jaringan per node,
- RAM minimal 8 GB per node (4 GB masih memungkinkan untuk skenario terbatas),
- Storage terdistribusi minimal 100 GB per node.
Instalasi dilakukan menggunakan snap package, dengan satu node berperan sebagai leader dan node lainnya bergabung menggunakan token. Pengaturan IP statis menjadi praktik penting untuk menjaga stabilitas cluster.
Cloud untuk Edukasi dan Regenerasi Talenta
Menariknya, diskusi juga membahas bagaimana teknologi cloud dapat diterapkan sebagai sarana edukasi. Dari perspektif mahasiswa, MicroCloud memungkinkan institusi pendidikan memanfaatkan perangkat keras yang tersedia untuk membangun lingkungan pembelajaran cloud yang nyata.
Integrasi Kubernetes, Docker, serta sistem berbasis Debian dinilai memberikan pengalaman praktis yang mendekati kebutuhan industri. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara industri dan pendidikan tinggi seperti kampus dan para akademisinya dapat mempercepat regenerasi talenta digital yang siap pakai.
Workshop NetClass Special Edition tahun ini menegaskan bahwa pengembangan teknologi cloud tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang pengetahuan, kolaborasi, dan kesiapan SDM.
MicroCloud hadir sebagai alternatif cloud terbuka yang fleksibel, sementara peran industri seperti Sivali dan penyedia pelatihan seperti ID Networkers memperkuat ekosistem pembelajaran dan adopsi teknologi. Bagi profesional maupun mahasiswa, pesan utamanya jelas: cloud computing bukan lagi teknologi masa depan, melainkan kompetensi hari ini.***