Pada 2030, kebutuhan listrik global untuk pusat data diproyeksikan hampir dua kali lipat dibandingkan 2025. Ini didorong oleh ekspansi pesat fasilitas komputasi di Eropa yang menopang permintaan kecerdasan buatan (AI), layanan cloud hyperscale, dan penambangan kripto.
Di Eropa, konsumsi listrik pusat data diperkirakan meningkat naik dari 145 TWh ke sekitar 238 TWh. Adapun di Amerika Utara, ekspansi serupa akan mendorong kebutuhan listrik hingga merangsek dari sekitar 386 Tera Watt per Jam (TWh) menjadi 755 TWh. Lonjakan tajam ini mengindikasikan bahwa pusat data telah bergeser menjadi komponen inti dalam ekosistem energi global, bukan hanya infrastruktur digital pendukung.
Di sisi pendanaan, tren serupa terlihat. Pada 2025, total investasi global untuk pusat data diproyeksikan mencapai sekitar USD 580 miliar, melampaui belanja eksplorasi minyak baru yang berada di kisaran USD 540 miliar.
Investor kini memposisikan infrastruktur digital sebagai aset energi strategis jangka panjang. Proyeksi International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa pada 2035 sebagian besar ekspansi kebutuhan listrik pusat data sekitar 400 TWh, akan dipenuhi oleh energi terbarukan, disusul gas sekitar 220 TWh dan reaktor modular kecil sekitar 190 TWh.
Namun, pertumbuhan ini membawa tantangan serius di Eropa. Keterbatasan kapasitas jaringan listrik, meningkatnya elektrifikasi industri, serta pengetatan modal membuat ekspansi pusat data berskala besar menjadi semakin kompleks. Tekanan tersebut mendorong pemimpin TI di Uni Eropa untuk meninjau ulang strategi digital mereka.
Banyak organisasi kini mulai memigrasikan workload kritis ke penyedia cloud lokal dan regional yang mampu menawarkan kepatuhan regulasi yang lebih ketat, kedaulatan data, serta fleksibilitas yang lebih baik dalam pengelolaan beban kerja berenergi tinggi.
Di saat yang sama, muncul perkembangan penting lain di kawasan tersebut, yakni meningkatnya adopsi solusi open source sebagai pendorong kemandirian digital. Adanya inisiatif seperti European Open Source Software Strategy, EUCS, dan persyaratan data sovereignty mendorong lembaga publik, sektor finansial, serta perusahaan industri untuk mengurangi ketergantungan pada vendor proprietary dan infrastruktur non-UE.

Open source dianggap memberikan dua keuntungan utama, yakni transparansi dan kemampuan melakukan audit penuh, serta fleksibilitas dalam mengintegrasikan workload ke cloud lokal yang lebih ramah regulasi dan lebih mudah disesuaikan dengan kondisi energi domestik.
Menurut analis TD Cowen, Microsoft dalam enam bulan terakhir telah membatalkan proyek data center dengan total kapasitas sekitar 2 Giga Watt di Eropa dan Amerika Serikat sebagai bagian dari penyesuaian strategis terhadap permintaan energi dan tekanan regulasi, meskipun perusahaan tersebut tetap menargetkan investasi sekitar US$ 80 miliar untuk infrastruktur AI globalnya.
Pergeseran Strategis
Sementara itu, dorongan kedaulatan digital di Eropa semakin diperkuat oleh berbagai inisiatif pemerintah: Jerman menjalankan program Sovereign Tech Agency untuk memperluas penggunaan open-source, Uni Eropa tengah mendorong pembentukan EU Sovereign Tech Fund, dan badan publik Jerman seperti ZenDiS turut mempromosikan solusi open-source seperti openDesk sebagai alternatif layanan productivity proprietary. Perkembangan ini mempertegas pergeseran strategis pelaku TI di Eropa menuju cloud lokal dan open-source yang lebih sesuai dengan kepatuhan energi, regulasi, dan kedaulatan data.
Sementara itu, kemajuan energi terbarukan di kawasan ini juga membuka peluang kolaborasi baru. Perusahaan energi seperti Shell kini memasok energi terbarukan untuk pusat data Google di Inggris, sementara pemerintah Inggris dan Amerika Serikat menjalin kerja sama dalam pembangunan superkomputer bertenaga besar. Uni Eropa tengah mempercepat pembangunan “AI factories” di sejumlah negara sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas komputasi domestik dan mengurangi ketergantungan pada hyperscale global.
Secara keseluruhan, meningkatnya kebutuhan energi pusat data, tekanan regulasi, serta ambisi kedaulatan digital menjadikan Eropa sebagai wilayah yang paling agresif dalam mendorong migrasi teknologi informasi ke cloud lokal dan solusi open source.
Transformasi ini menunjukkan bahwa infrastruktur digital masa depan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas komputasi, tetapi juga oleh kemandirian teknologi, efisiensi energi, dan kemampuan negara serta perusahaan untuk mengelola pertumbuhan secara berkelanjutan di tengah tekanan energi global.***