YOGYAKARTA – Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta,kembali menjadi tuan rumah bagi talenta-talenta muda pegiat teknologi jaringan dalam ajang Netcomp 4.0. Kegiatan yang menggabungkan kompetisi dan edukasi ini berlangsung selama dua hari berturut-turut, Rabu hingga Kamis, 4 – 5 Februari 2026, dan dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai daerah..
Rangkaian acara dibuka dengan keseruan babak final kompetisi yang digelar di hari pertama. Sebanyak 75 finalis yang terdiri dari siswa SMA, SMK, hingga mahasiswa beradu kemampuan teknis di lokasi acara. Kompetisi dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu Networking dan Capture The Flag (CTF).
Untuk memastikan fokus dan objektivitas penilaian, panitia menempatkan peserta setiap kategori lomba di ruangan yang terpisah. Acara di hari perdana ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta finalis, menandai berakhirnya tahap kompetisi teknis.
Wawasan Masa Depan Teknologi
Puncak acara Netcomp 4.0 digelar pada hari kedua, Kamis (5/2), dengan Seminar Nasional yang berlangsung padat mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Ajang ini menghadirkan lima pembicara dari berbagai latar belakang industri dan akademisi untuk membedah isu-isu teknologi terkini.

Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah paparan dari Ryo Ardian, Executive Vice President Sivali Cloud Technology. Dalam kesempatan itu, Ryo membawakan materi strategis bertajuk “Fundamental Cloud Open Source dan Federasi Cloud untuk Mewujudkan Kedaulatan dan Ketahanan Digital Nasional”.
Ia menekankan bahwa pemahaman mendalam mengenai teknologi awan berbasis sumber terbuka (open source) dan konsep federasi cloud adalah kunci utama untuk mewujudkan kedaulatan serta ketahanan digital nasional yang mandiri.
Dia mengingatkan, jika sistem pemerintahan, perbankan hingga pendidikan bergantung penuh pada infrastruktur luar negeri maka hal itu bisa berisiko politis. “Ketika terjadi konflik politik atau sanksi internasional maka dapat berakibat pembatasan akses layanan, sulit mengakses data, bahkan negara kehilangan kontrol terhadap sistem penting. Inilah kenapa banyak negara mulai bicara soal digital sovereignty atau kedaulatan data,” ujar Ryo.
Cloud, ujarnya, bukan hanya soal server melainkan juga tentang kedaulatan, keamanan, dan masa depan negara. Solusi konkret yang dia usung ialah mendorong para pemangku kepentingan untuk membangun cloud sendiri dan bergabung ke dalam federasi cloud. Upaya ini diyakininya sebagai strategi menghadapi dan sekaligus memitigasi risiko global.
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian geopolitik, lanjut Ryo, cloud federation berpeluang memberi keuntungan berupa tidak tergantung kepada satu negara atau satu vendor, bisa memisahkan data sensitif di cloud lokal, dan dapat mengatur distribusi beban kerja antar wilayah.
Begitu pula jika suatu wilayah terganggu, layanan tetap berjalan dari lokasi lain. “Ini bukan cuma desain arsitektur, ini adalah strategi bertahan di era perang siber,” tandasnya.
Menurut Ryo, kampus atau perguruan tinggi dapat menjadi pionir untuk memulainya dengan membangun cloud federation. Beberapa kampus dapat berkolaborasi mengembangkan dashboard komputasi awan bersama.
Ditekankan pula, visi terwujudnya kedaulatan data juga memberi peran penting kepada para mahasiswa teknologi informasi. Alih-alih calon programmer, talenta muda digital ini merupakan calon penjaga keamanan digital, arsitek infrastruktur nasional dan bahkan pembuat kebijakan teknologi ke depan.
Keamanan Jaringan Non-Terrestrial Network (NTN)
Rangkaian seminar ditutup pada sesi kelima oleh Eka Indarto, Direktur Pengembangan Layanan dan Ekosistem Life Media. Sebagai pembicara pamungkas, Eka membawakan materi yang menatap jauh ke depan dengan judul “Tantangan Keamanan Jaringan Non-Terestrial 5G/6G”.
Dia memaparkan secara komprehensif dari analisis standar, ancaman siber dan strategi mitigasi masa depan. Materi ini memberikan gambaran mengenai kompleksitas dan aspek keamanan pada infrastruktur jaringan generasi mendatang.
Eka Indarto memaparkan bahwa Non-Terrestrial Network (NTN) menjadi bagian dari evolusi jaringan 5G dan 6G untuk menghadirkan konektivitas berbasis satelit yang terintegrasi dengan jaringan terestrial. Ia menjelaskan integrasi satelit LEO dalam arsitektur 3GPP membuka peluang perluasan cakupan layanan, sekaligus menghadirkan tantangan keamanan baru pada sisi jaringan dan perangkat
Menurutnya, tantangan keamanan NTN mencakup risiko jamming, spoofing, serta potensi serangan pada link komunikasi antara satelit dan ground station. Kompleksitas arsitektur yang melibatkan space segment, ground segment, dan user equipment menuntut pengamanan menyeluruh agar tidak muncul celah pada titik integrasi sistem.
Ia menekankan pentingnya mitigasi melalui enkripsi komunikasi, mekanisme authentication yang kuat, serta penerapan standar keamanan sesuai kerangka 3GPP dan best practice industri.
Salah satu mitigasi yang Eka sampaikan ialah Arsitektur Zero-Trust (ZTA) dan AI-Native. Dia pun menjabarkan poin-poin penting. “Filosofi zero-trust yakni jangan pernah percaya dan selalu verifikasi, lokasi fisik tidak menjamin keamanan. Verifikasi ketat berupa otentikasi multifaktor berkelanjutan untuk setiap akses irisan jaringan,” katanya.
Berikutnya ialah federated learning yaitu satelit belajar mendeteksi serangan secara kolaboratif tanpa mengirim data mentah pengguna ke pusat demi menjaga privasi data.
Eka juga menggarisbawahi, karakteristik Non-Terrestrial Network menuntut pertahanan yang jauh lebih cerdas daripada jaringan darat. Diperlukan pula integrasi security by design, AI Native security dan kriptografi tahan kuantum.
Selain itu, koordinasi lintas sektor dan peningkatan kesiapan teknis menjadi faktor krusial untuk memastikan implementasi guna mewujudkan konektivitas yang tidak hanya cepat dan luas namun juga tangguh serta terpercaya.
Kegiatan Netcomp 4.0 resmi dipungkasi dengan sesi pengumuman para juara dan foto bersama antara para pemenang lomba dengan narasumber serta panitia, menutup dua hari penuh inovasi dan kolaborasi di lingkungan Vokasi UGM.***