Generasi Baru Open Source: Perjalanan Fidelito dari ITTS ke Sivali Cloud Technology

Penulis: Amanda Mahardika Saskia

Di era ketika kalangan perusahaan berlomba mencari talenta yang adaptif dan kolaboratif, perjalanan Fidelito dari kampus Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS) untuk magang di Sivali Cloud Technology menjadi contoh bagaimana generasi muda dapat mengembangkan diri. Terutama ketika bersentuhan langsung dengan lanskap open source dan praktik industri kelas dunia.

Bernama lengkap Vointra Namara Fidelito, ia bukan sekadar bergabung di Sivali Cloud Technology sebagai peserta magang biasa. Namun, sudah berbekal keberanian bereksperimen dan semangat berkolaborasi yang menjadi ciri generasinya.

Fide begitu ia akrab disapa, kini menguasai pengetahuan tentang docker & system dari kontainerisasi, infrastruktur, jaringan internet dan cyber security. Kemampuan interpersonal dan komunikasi profesional pun ia serap sejak di magang di Sivali.

Jika sebelumnya dia merasa kurang percaya diri dalam public speaking dan belum memahami etiket bertemu orang secara profesional, setelah magang sejak 21 Agustus lalu dia kini lancar dan menikmati proses meeting dengan klien hingga presentasi dengan korporasi dan komunitas.

Awal Keingintahuan

Alumni SMAN 1 Jonggol, Bogor ini justru mulai tertarik pada open source setelah mengalami kebingungan saat pertama kali menemukan tampilan sebuah sistem operasi (OS). Baginya, ini sebuah pengalaman yang memicu rasa ingin tahunya terhadap dunia perangkat lunak bebas.

“Awal mula saya mulai mencoba Linux saat masih SMA. Ketika sedang di rumah, saya bingung dengan tampilan OS yang tidak biasa. Saya tanya ke Papa, ‘ini OS apa?’, ternyata Zorin OS yang basisnya Linux,” katanya mengenang.

Dari situlah dia makin penasaran dengan Linux dan mulai mencoba belajar mulai dengan perintah-perintah terminal lalu install aplikasi dengan terminal. “lanjut ngoding di Linux sampai laptop freezing,” ujar Fide yang di bulan keenam mulai terbiasa dan nyaman dengan OS ini.

Keakraban Fide dengan open source makin lekat ketika melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS), Banten yang dinakhodai Rektor Prof Onno W Purbo. Proses pembelajaran, berkegiatan di BEM dan interaksi dengan kakak angkatan lantas mengerucutkan minat serta orientasi profesi yang ia bidik yakni cybersecurity.

Ketika datang kesempatan magang di perusahaan teknologi informasi Sivali Cloud Technology, Fide bergerak cepat dan tidak menyia-nyiakan peluang tersebut. Di sinilah ia merasakan mendapat kesempatan belajar lebih luas bahkan dari praktisi open source langsung.

Dia mengaku makin tahu jauh lebih dekat dengan Ubuntu, Cloud Native dan ideologi Copyleft. Materi soft skill ia dapatkan dan juga diperkenalkan dengan Komunitas Ubuntu Indonesia.

”Pak Sui dan Pak Ryo juga melibatkan saya ke pertemuan, meeting serta event-event TI ke berbagai tempat, hingga puncaknya saya dipercaya menjadi pembicara untuk workshop IT Camp,” katanya. Dua nama yang ia sebut merujuk pimpinan Sivali Cloud Technology  yakni Wong Sui Jan selaku CEO dan Founder dan Ryo Ardian sebagai Executive Vice President.

Workshop tersebut dihelat di Depok, Jawa Barat pada Jumat 31 Oktober 2025 yang merupakan buah kolaborasi Kode Creative Hub dengan komunitas Sahabat Ubuntu Indonesia (SUI) dan Sivali Cloud Technology. Fide mengampu salah satu materi di acara ini yang bertema besar ”Hand-on Workshop: Bangun Infrastruktur Cloud Tangguh untuk UMKM”.

Fidelito Talenta Muda yang Tumbuh Bersama Ekosistem Open Source Ubuntu Indonesia

Peluang Karir Talenta Digital

Interaksi Fidelito dengan lingkungan industri secara luas ini menjadi titik penting. Ia tidak hanya melihat teknologi bekerja, tetapi mulai memahami mengapa keterampilan open source sangat strategis bagi masa depan talenta digital Indonesia.

Dia lantas menguraikan luasnya peluang karir bagi Gen Z seusianya yang menggeluti open source seperti AI engineer, Cyber Security, Cloud Engineer, Network Engineer, DevOps, SRE, Data Engineer & MLOps, Technical Writer, Linux Administrator.

Entitas perusahaan dan institusi juga membuka pintu misalnya di industri telekomunikasi, ISP, Startup SaaS & AI, Big Tech, perusahaan open source global, cloud atau komputasi awan, finansial dan juga lembaga pemerintahan.

Kemandirian Pengembangan

Di tengah beragam jalur karir dan peluang yang terbuka lebar bagi talenta open source, Fide menekankan satu alasan teknis-ideologis yang membuatnya meyakini pilihan itu: Linux bukan hanya alat untuk belajar semata. Menurutnya, Linux menawarkan kombinasi keamanan, fleksibilitas, dan kemandirian pengembangan yang sulit ditandingi.

“Yang menarik bagi saya adalah apa yang membuat Linux merupakan salah satu OS terbaik untuk mempelajari komputer karena keamanan dan sistem fleksibilitasnya, terutama dengan produk Open-Source yang sangat secure dan tidak kalah hebatnya dengan produk proprietary,” ungkap pemuda berusia 20 tahun ini.

Fide kini berharap generasi muda perlu mempelajari open source dan ideologi Copyleft karena para pengguna lantas terlalu mengandalkan dengan produk proprietary dan memiliki dampak vendor lock-in.

“Ini sama saja kita harus membayar subscription untuk produk mereka yang membuat kita terlalu mengandalkan produk yang sudah jadi tanpa mengetahui isi dari produk tersebut terutama keamanan data pribadi atau perusahaan kita yang dapat terekspos oleh mereka,” urainya.

Dengan adanya komunitas SUI dan Ubuntu, Fide percaya praktisi open source dapat membantu dengan memberikan solusi kemudahan untuk mereka yang ingin membangun startup atau bisnis dengan modal terjangkau dan budget fleksibel.

Apa yang dialami Fide menunjukkan bahwa masa depan teknologi dibangun bukan hanya oleh perangkat atau platform, tetapi oleh orang-orang muda yang mau turun langsung, bereksperimen, dan berkolaborasi. Dengan ekosistem yang tepat, anak muda Indonesia bisa melompat jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.***

Exit mobile version